0435.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi pelajar Indonesia kini justru menuai kritik keras. Sejumlah kasus keracunan massal di berbagai daerah menimbulkan pertanyaan besar, apakah MBG masih layak disebut solusi, atau justru menjadi ancaman baru bagi keselamatan generasi muda?
Sleman: Guru Juga Tumbang
Kasus di Sleman membuka mata publik. Menurut laporan Tempo (13/8/2025), di SMP Muhammadiyah III Mlati sebanyak 83 dari 174 siswa mengalami diare setelah menyantap MBG. Ironisnya, guru yang menjalankan prosedur uji-cicip sebelum makanan dibagikan juga ikut keracunan.
“Di sekolah kami ada tim yang mencicipi dulu untuk memastikan makanan tidak basi dan layak makan, namun guru juga ikut mengalami gejala,” Ujar Kepala Sekolah Yulia Rachmawati kepada Tempo.
Dinas Kesehatan Sleman, dikutip dari Kompas (13/8/2025), mencatat total 178 warga sekolah terdampak. Polemik semakin panas setelah muncul kebijakan “guru wajib mencicipi dulu”.
Sekretaris Daerah Sleman bahkan menyampaikan permintaan maaf, seperti diberitakan Detik (28/8/2025), dan menyebut kebijakan itu akan dievaluasi.
Tak berhenti di situ, CNN Indonesia (28/8/2025) melaporkan 135 siswa dan 2 guru di SMPN 3 Berbah juga tumbang setelah menyantap MBG. Fakta ini menegaskan bahwa masalah bukan sekadar insiden tunggal, melainkan sistemik.
Kupang dan Sumba Barat Daya: 215 Siswa Tumbang
Tragedi juga menghantam Kupang dan Sumba Barat Daya, NTT. Kompas (27/7/2025) menyebut sebanyak 215 siswa mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG. Gejala mulai dari mual, muntah, hingga diare, dengan sebagian siswa harus dirawat intensif di rumah sakit.
Kasus di NTT memperluas bukti bahwa persoalan MBG bukan sekadar persoalan lokal, tetapi potensi tragedi nasional bila standar penyediaan, pengolahan, dan distribusi makanan tidak segera dibenahi.
Dari Bergizi Gratis Jadi Beracun Gratis
Rangkaian kasus ini menggeser makna MBG di mata publik. Dari slogan “Makan Bergizi Gratis”, kini muncul ejekan pedas “Makanan Beracun Gratis”.
Kritik ini muncul bukan tanpa alasan. Guru yang seharusnya menjadi pelindung siswa ikut menjadi korban. Anak-anak yang seharusnya pulang dengan tenaga penuh malah harus dirawat. Bahkan, sebagian siswa yang menolak menu MBG justru selamat dari keracunan, sebuah ironi yang menohok.
Pada prinsipnya, MBG seharusnya menjadi warisan kebijakan bergizi, bukan tragedi kesehatan. Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Jika dibiarkan tanpa perbaikan menyeluruh, sejarah akan mencatat bahwa program yang lahir dari janji mulia justru berubah menjadi eksperimen berbahaya yang mengorbankan anak-anak bangsa.

Komentar