Daerah Editorial
Beranda » Berita » Bone Bolango Kecolongan Atas Aksi Tak Senonoh di Pantai Botubarani , Identitas “Serambi Madinah” Dipertaruhkan

Bone Bolango Kecolongan Atas Aksi Tak Senonoh di Pantai Botubarani , Identitas “Serambi Madinah” Dipertaruhkan

Sumber : Tangkapan layar tiktok, tingker.bella06

0435.id, Gorontalo – Baru-baru ini, publik Gorontalo dihebohkan oleh Peristiwa di Pantai Botubarani, Bone Bolango, yang menampilkan seorang lelaki berpose dengan pakaian seksi ala perempuan di kawasan wisata hiu paus, adalah tamparan keras bagi citra Gorontalo sebagai “Serambi Madinah.”

Video viral itu bukan sekadar sensasi media sosial, melainkan bukti kelalaian pemerintah daerah dalam mengawasi ruang publik yang mestinya steril dari perilaku yang merendahkan moral.

Kemarahan publik patut dimaklumi. Sebab, ini bukan kali pertama Gorontalo jadi sorotan nasional akibat peristiwa yang bertolak belakang dengan nilai adat dan agama. Padahal, pemerintah daerah lain di Gorontalo sudah pernah mengambil langkah antisipasi.

Pemkot Gorontalo dan Pemkab Gorontalo, misalnya, pernah menerbitkan “Surat Edaran” yang mengatur ketertiban acara hiburan rakyat dan menekankan larangan aktivitas yang dianggap merusak moral publik. Meskipun menuai pro dan kontra, regulasi itu menunjukkan adanya upaya konkret dari pemerintah untuk mengendalikan ruang publik sesuai dengan nilai religius dan kearifan lokal.

Ironisnya, di Kabupaten Bone Bolango justru kecolongan di salah satu ikon wisatanya. Jika Pemkot dan Pemkab Gorontalo saja berani mengambil sikap tegas melalui SE untuk menjaga citra daerah, maka Bone Bolango semestinya menjadikan hal ini sebagai pelajaran.

Erwinsyah Ismail Tegaskan Rumah Sakit Bukan Mesin Pendapatan Daerah, Melainkan Pelayanan Kemanusiaan

Tidak cukup hanya mengandalkan branding wisata hiu paus tanpa payung regulasi yang jelas. Perbup atau minimal Surat Edaran khusus perlu segera diterbitkan untuk mengatur perilaku wisatawan, standar berpakaian, dan norma etika di kawasan wisata.

Tanpa langkah nyata, semboyan “Adat bersendikan Syara, Syara bersendikan Kitabullah” hanya akan terdengar kosong. Gorontalo tidak bisa terus membiarkan marwahnya tercoreng oleh kelalaian dan pembiaran.

Bola panas kini ada di tangan Bupati Bone Bolango. Apakah akan menutup mata, atau justru menjadikan momentum ini sebagai titik balik untuk menegakkan aturan yang melindungi identitas religius dan martabat daerah?

Marwah Serambi Madinah tidak bisa dipertahankan dengan retorika semata. Ia menuntut keberanian, ketegasan, dan regulasi yang hidup di lapangan.

Muslub IBCA MMA Kota Gorontalo Tetapkan Moh Reddah Mardjun sebagai Ketua

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement