0435.id, Gorontalo – Tindakan represif oknum aparat kepolisian dalam mengamankan aksi demonstrasi di Kabupaten Gorontalo Utara (5/11/2025), menuai kritik keras dari kalangan mahasiswa.
Salah satunya datang dari mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Agung Bobihu. Ia menilai peristiwa itu menunjukkan kegagalan kepemimpinan di tubuh Polres Gorontalo Utara.
Menurut Agung, insiden kekerasan terhadap massa aksi yang menyampaikan aspirasi secara damai adalah bukti nyata lemahnya fungsi pembinaan dan pengawasan Kapolres terhadap anggotanya.
“Polisi seharusnya menjaga dan melindungi rakyat, bukan malah bertindak sebagai alat penindas. Ini bukan hanya pelanggaran etika profesi, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap amanat konstitusi dan sumpah Tribrata,” tegasnya.
Ia menilai, tindakan brutal aparat di lapangan menandakan tidak adanya pembinaan mental dan profesionalisme di tubuh Polres Gorontalo Utara.
“Kapolres Gorontalo Utara gagal memahami bahwa demokrasi tidak bisa dijaga dengan pentungan, tetapi dengan kedewasaan berpikir dan kemampuan berdialog,” ujarnya.
Aktivis HMI itu menambahkan, perilaku represif aparat bukan hanya mencoreng wajah Polri, tetapi juga merusak kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.
“Kapolres yang tidak mampu mendidik anggotanya untuk bersikap humanis, seharusnya tidak lagi layak memimpin satuan dengan tanggung jawab sebesar menjaga keamanan dan hak rakyat,” tambahnya.
Ia mendesak Kapolda Gorontalo untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan Kapolres Gorontalo Utara dan mempertimbangkan pencopotannya sebagai bentuk tanggung jawab moral dan institusional.
“Kekerasan terhadap massa aksi adalah bentuk kesewenang-wenangan negara terhadap rakyatnya sendiri. Jika Polri ingin kembali dipercaya publik, maka setiap tindakan represif harus dibalas dengan sanksi tegas, bukan pembelaan,” tegasnya.
Dalam keterangan terakhirnya, ia menyerukan, agar negara tidak tutup mata atas praktik kekerasan aparat kepolisian.
“Diam berarti membenarkan kekerasan. Polisi yang menindas rakyat bukan pelindung, tapi pengkhianat terhadap seragam yang dikenakannya,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih dalam upaya memperoleh kontak pihak yang disebutkan.

Komentar