0435.id – Pertumbuhan street coffee di Provinsi Gorontalo khusunya di Kota Gorontalo dalam dua tahun terakhir dinilai menjadi fenomena menarik di tengah geliat ekonomi anak muda. Di hampir setiap sudut kota, mulai dari lahan kosong hingga pusat keramaian, usaha kopi jalanan terus bermunculan dan menjadi pilihan baru masyarakat untuk berkumpul.
Ketua Bidang UMKM Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Gorontalo, Iswan Febriyanto Saleh, menilai fenomena tersebut bukan sesuatu yang negatif. Menurutnya, keberanian anak muda memulai usaha justru menjadi tanda adanya pergerakan ekonomi di daerah.
“Coba perhatikan, dua tahun terakhir, street coffee itu tumbuh sangat cepat di Kota Gorontalo. Di mana ada lahan kosong muncul street coffee, di mana ada keramaian muncul juga street coffee. Bahkan sekarang, banyak anak muda itu lebih memilih nongkrong di street coffee daripada di cafe,” ujarnya.
Direktur PT. Klik Digital Teknologi itu mengatakan, hadirnya street coffee telah membuka ruang usaha baru bagi generasi muda. Selain menciptakan lapangan pekerjaan, aktivitas tersebut juga memunculkan perputaran uang di masyarakat.
“Saya tidak melihat itu sebagai hal yang buruk, justru saya pribadi sebagai pelaku usaha senang banget. Karena ada anak-anak muda yang berani untuk memulai usaha. Ada perputaran uang, ada lapangan kerja, ada ekonomi yang tumbuh dan mulai bergeliat,” katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan, di balik ramainya bisnis kopi jalanan, terdapat fenomena ekonomi yang perlu dicermati, yakni lipstick effect atau efek lipstik.
Ia menjelaskan, lipstick effect merupakan kondisi ketika masyarakat mulai menahan pengeluaran besar akibat tekanan ekonomi, namun tetap mencari hiburan dengan biaya yang lebih murah dan terjangkau.
“Lipstick efect itu sederhananya begini, ketika kondisi ekonomi mulai terasa berat, masyarakat biasanya menahan diri untuk pengeluaran-pengeluaran besar. Bisa jadi beli mobil ditunda, renovasi rumah ditunda, bahkan investasi ditunda. Tapi mereka tetap mencari hiburan yang terjangkau. Nah, ini yang namanya lipstik efek. Dan salah satu hiburan paling murah hari ini adalah nongkrong sambil minum kopi,” jelasnya.
Dari fenomena tersebut, pengusaha sukses itu mempertanyakan apakah ramainya street coffee di Gorontalo benar-benar menandakan meningkatnya kesejahteraan masyarakat atau justru menjadi bentuk pelarian murah dari tekanan ekonomi.
“Nah, pertanyaannya, apakah street coffee di Gorontalo itu ramai karena masyarakat makin sejahtera atau masyarakat sedang mencari pelarian paling murah dari tekanan ekonomi? Ini yang menjadi pertanyaan. Dan ini dua hal yang sangat berbeda,” ungkapnya.
Bagi pengusaha yang berpengalaman di bisni kopi itu, jika fenomena yang terjadi lebih mengarah pada lipstick effect, maka para pelaku usaha harus lebih berhati-hati dalam membaca pasar. Sebab, pertumbuhan jumlah usaha belum tentu diikuti dengan peningkatan daya beli masyarakat.
“Hari ini mungkin ada lima puluh street coffee, besok mungkin bisa seratus bahkan ke depan bisa ribuan di Gorontalo. Lalu semua merasa pasarnya besar. Padahal bisa jadi yang bertambah itu bukan uang yang beredar, yang bertambah hanyalah jumlah penjualnya,” katanya lagi.
Menurut pengusaha yang juga pernah berkecimpung di bisnis retail minuman itu, kondisi tersebut berpotensi memicu persaingan tidak sehat antar pelaku usaha, mulai dari perang harga hingga promosi berlebihan yang pada akhirnya membuat keuntungan semakin menipis.
“Mereka jadi berebut pelanggan yang sama, berebut uang yang sama. Dan ini yang biasanya terjadi perang harga. Promo terus-menerus, diskon akhirnya keuntungan menipis. Lalu satu per satu mulai tutup,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah tidak cukup hanya ditandai dengan menjamurnya tempat nongkrong atau usaha kopi. Ia menilai, daerah membutuhkan lebih banyak industri baru, investasi, dan lapangan kerja yang mampu menciptakan nilai ekonomi baru.
“Kalau kita ingin ekonomi Gorontalo itu tumbuh, maka yang harus bertambah itu bukan hanya tempat ngopinya, tapi juga jumlah industri baru, jumlah pengusaha baru, jumlah investasi baru, jumlah lapangan kerja. Sebab ekonomi yang sehat itu bukan ketika uang banyak berputar di antara sesama penjual kopi, tapi ketika uang baru masuk dan menciptakan nilai baru bagi daerah,” lanjutnya.
Meski begitu, IswanFS tetap melihat fenomena street coffee sebagai sesuatu yang positif selama masyarakat dan pelaku usaha tidak salah membaca kondisi pasar yang sebenarnya.
“So, menurut saya, street coffee itu fenomena yang baik, tapi jangan sampai kita salah membaca sinyalnya. Karena keramaian belum tentu pertumbuhan, bisa jadi itu hanya lipstik efek yang sedang terjadi di depan mata kita,” pungkasnya.

Komentar