Daerah Peristiwa
Beranda » Berita » Tragedi Kematian MJ Berseliweran di Medsos, Rektor UNG Tak Kunjung Bersuara?

Tragedi Kematian MJ Berseliweran di Medsos, Rektor UNG Tak Kunjung Bersuara?

0435.id, Gorontalo – Tragedi Diksar menyisakan pengabaian dari Kampus UNG, Bagaimana tidak, hingga kini, Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) belum menyampaikan sikap resmi terkait tragedi kematian MJ (19), mahasiswa semester 3 asal Sulawesi Tenggara, yang meninggal usai mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala Butaiyo Nusa Fakultas Ilmu Sosial (FIS).

Padahal, kasus ini sudah berseliweran di berbagai media massa dan menjadi sorotan publik. Ketiadaan pernyataan dari pimpinan tertinggi kampus membuat banyak pihak bertanya-tanya.

Seorang mahasiswa UNG yang enggan disebutkan namanya, kepada 0435.id, menegaskan, keresahannya atas lambatnya sikap Rektor UNG. Menurutnya, Rektor tidak harus menunggu konverensi pers dulu baru bicara.

“Kalau kasus ini sudah heboh di media, tapi Rektor masih diam saja, kami sebagai mahasiswa jadi bertanya-tanya. Apakah kampus mau lepas tangan, atau memang menunggu waktu tertentu baru bicara? Seharusnya Rektor yang pertama tampil menjelaskan, karena ini menyangkut nyawa mahasiswa UNG sendiri,” Ujarnya.

Tragedi itu sendiri bermula saat MJ mengikuti kegiatan perkaderan sejak 18 hingga 21 September 2025 di kawasan Suwawa Tengah, Bone Bolango.

Erwinsyah Ismail Tegaskan Rumah Sakit Bukan Mesin Pendapatan Daerah, Melainkan Pelayanan Kemanusiaan

Kegiatan yang seharusnya membentuk karakter justru berakhir dengan kabar duka. MJ dinyatakan meninggal dunia pada Senin (22/9/2025) usai mengeluh sakit selama mengikuti rangkaian acara.
Kepada awak media 0435.id, keluarga korban, Iksan, mengungkapkan fakta memilukan.

Menurutnya, almarhum berangkat dalam kondisi sehat. Namun, ketika prosesi penerimaan, lehernya sudah tampak memar dan membengkak.

“Adik saya sudah minta izin untuk pulang karena lehernya bengkak, tapi panitia Mapala tidak memberikan izin. Mereka memaksa harus mengikuti kegiatan sampai selesai, padahal posisi adik saya sudah kesakitan,” Ungkapnya dengan nada geram.

Keluarga juga menyesalkan sikap panitia yang dianggap lalai. Bukannya segera membawa ke rumah sakit, panitia justru membiarkan kondisi korban memburuk.

“Adik saya malah menelpon minta dijemput teman karena sudah sesak napas. Panitia sama sekali tidak ada itikad baik untuk mengantarkan ke rumah sakit,” Tegas Iksan.

Muslub IBCA MMA Kota Gorontalo Tetapkan Moh Reddah Mardjun sebagai Ketua

Korban akhirnya dilarikan ke rumah sakit, tetapi upaya penyelamatan terlambat. Luka lebam dan bengkak di leher membuat kondisinya semakin kritis hingga akhirnya tak tertolong.

Kini, publik menuntut kejelasan, apakah Rektor UNG akan segera memberi jawaban tegas, membuka ruang wawancara, atau memilih tetap diam dalam gelombang kritik yang terus menguat?

Sementara itu, awak media 0435.id telah berupaya menghubungi Ketua Mapala Butaiyo Nusa UNG untuk dimintakan keterangan resmi. Namun, nomor telepon yang bersangkutan belum aktif dan konfirmasi belum diperoleh.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement