Oleh: Agung Bobihu
Mahasiswa Akuntansi UNG
0435.id – Pertumbuhan ritel modern di Gorontalo kerap dipahami sebagai indikator kemajuan ekonomi daerah. Kehadiran Alfamart, dengan jaringan gerai yang semakin meluas, dianggap membawa efisiensi distribusi dan kemudahan akses konsumsi. Namun, dalam kerangka ekonomi pembangunan daerah, pertumbuhan semacam ini perlu ditakar secara lebih ketat. Yang menentukan kualitas pembangunan bukanlah bertambahnya titik perdagangan, melainkan sejauh mana nilai ekonomi yang dihasilkan mampu memperkuat struktur usaha lokal dan tertahan di dalam wilayah.
Ekonomi Gorontalo bertumpu pada usaha kecil dan mikro yang berbasis rumah tangga. Warung sembako, kios harian, dan pedagang kecil memainkan peran sentral dalam menopang penghidupan masyarakat. Ketika Alfamart berekspansi, persaingan yang muncul berlangsung dalam kondisi yang tidak seimbang. Dengan modal besar, sistem logistik nasional, dan strategi harga terkoordinasi, ritel modern mampu menyerap konsumen secara cepat. Usaha kecil di sekitarnya kehilangan pangsa pasar tanpa memiliki kapasitas struktural untuk merespons kompetisi tersebut secara setara.
Ekspansi ritel modern tidak hanya menggeser pola belanja, tetapi juga mengubah relasi ekonomi lokal. Banyak usaha kecil yang sebelumnya menciptakan pendapatan mandiri dan menyerap tenaga kerja keluarga secara perlahan terdesak. Yang muncul kemudian adalah konsentrasi aktivitas perdagangan pada satu entitas ritel dengan kepemilikan terpusat. Secara statistik, aktivitas transaksi mungkin meningkat, tetapi secara distributif terjadi penyempitan ruang ekonomi bagi pelaku usaha kecil. Dalam perspektif pembangunan, pergeseran dari ekonomi berbasis kepemilikan usaha ke ekonomi berbasis upah mencerminkan penurunan kualitas kemandirian ekonomi daerah.
Kontribusi Alfamart melalui penyerapan tenaga kerja kerap dikemukakan sebagai pembenaran ekspansi. Pekerjaan yang tercipta memang bersifat formal, tetapi umumnya berupah minimum dengan ruang mobilitas ekonomi yang terbatas. Sementara itu, usaha kecil yang tergerus sebelumnya berfungsi sebagai sarana akumulasi ekonomi rumah tangga. Jika kontribusi dinilai secara bersih, lapangan kerja ritel modern tidak sepenuhnya mengompensasi hilangnya sumber pendapatan mandiri yang melekat pada usaha kecil.
Klaim dukungan terhadap UMKM melalui penyediaan ruang rak di gerai ritel modern juga tidak serta-merta mengubah struktur tersebut. Produk UMKM yang masuk ke jaringan Alfamart berada dalam sistem yang dikendalikan oleh korporasi. Pelaku usaha kecil menanggung biaya adaptasi standar, kontinuitas pasokan, dan risiko pasar, sementara kendali distribusi dan penentuan nilai berada di luar tangan mereka. Dalam kondisi ini, integrasi UMKM ke ritel modern lebih mencerminkan subordinasi ke dalam sistem distribusi nasional daripada penguatan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Dari sisi fiskal daerah, keterbatasan kontribusi Alfamart semakin memperjelas persoalan. Sebagai perseroan terbatas berskala nasional, kewajiban pajak utama Alfamart, terutama Pajak Penghasilan Badan, disetorkan ke pemerintah pusat. Daerah hanya menerima bagian kecil melalui pajak dan retribusi tertentu yang nilainya tidak sebanding dengan volume transaksi yang berlangsung setiap hari. Dengan demikian, konsumsi masyarakat Gorontalo menghasilkan arus nilai ekonomi yang signifikan, tetapi sebagian besar mengalir keluar daerah, menciptakan kebocoran ekonomi yang sistematis.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ritel modern tidak otomatis berarti penguatan ekonomi daerah. Gorontalo berfungsi terutama sebagai pasar konsumsi, bukan sebagai pusat akumulasi nilai tambah. Selama ekspansi Alfamart tidak diiringi mekanisme yang memastikan penguatan usaha kecil, retensi nilai ekonomi di daerah, dan kontribusi fiskal yang proporsional, maka pertumbuhan yang terjadi akan bersifat semu. Aktivitas perdagangan meningkat, tetapi fondasi ekonomi lokal melemah.
Dalam kerangka pembangunan ekonomi daerah, keberadaan Alfamart seharusnya ditempatkan sebagai instrumen, bukan tujuan. Kontribusi ritel modern hanya dapat dinilai bermakna ketika ia memperkuat usaha kecil, memperluas basis produksi lokal, dan menahan nilai ekonomi agar berputar di Gorontalo. Tanpa koreksi struktural semacam itu, pertumbuhan ritel modern justru berisiko memperdalam ketimpangan dan melemahkan kedaulatan ekonomi daerah, meskipun secara kasat mata ekonomi tampak semakin ramai.

Komentar