0435.id – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo 2025 seharusnya menjadi catatan penting bagi seluruh daerah-daerah di Gorontalo, namun bagi Kabupaten Gorontalo Utara, ini bukan lagi sekadar alarm, ini sirene bahaya. Dengan skor 69,62, Gorut resmi berada di dasar klasemen kualitas SDM. Pahit, tapi itulah kenyataan.
Sementara itu, Kota Gorontalo melesat di angka 79,97, tertinggi di provinsi ini. Ironinya, kota itu dipimpin oleh figur yang bukan mantan dosen, bukan akademisi, dan tidak pernah berkutat dengan buku-buku teori pembangunan manusia.
Sebaliknya, Gorontalo Utara yang dipimpin oleh seorang mantan dosen, yang seharusnya paling memahami bagaimana membangun kualitas manusia, justru mencatatkan nilai terendah.
Ini bukan ironi lagi. Ini tamparan keras.
Mari bicara apa adanya, dalam dunia kerja, perusahaan dan instansi tidak punya kewajiban moral untuk kasihan pada pelamar dari daerah ber-IPM rendah. Mereka akan mengambil yang terbaik. Dan ketika angka-angka ini tampil setelanjang itu, anak muda Gorontalo Utara berpotensi tidak menjadi prioritas.
Ini muncul bukan karena mereka bodoh, malas, atau kurang berpotensi. Masalahnya ada pada sistem pembangunan manusia yang gagal diwujudkan pemerintahannya.
Gelar akademik pemimpin Gorontalo Utara tampaknya berhenti sebagai ornamen.
Semua teori yang pernah diajarkan, seminar yang pernah dibawakan, dan ilmu yang pernah dikutip, tak satu pun terlihat dalam hasil. Faktanya, rakyat hanya melihat angka. Dan angka itu brutal.
Di sisi lain, Kota Gorontalo menunjukan satu pelajaran penting, pemimpin tidak dinilai dari seberapa tinggi gelarnya, tetapi dari seberapa kuat kemampuannya mengeksekusi.
Bagaimana daerah yang dipimpin seorang akademisi justru menjadi yang paling rendah kualitas SDM-nya? Program apa yang sebenarnya berjalan, atau justru tidak berjalan sama sekali? Apakah pemerintah Gorontalo Utara benar-benar memahami urgensi pembangunan manusia, atau hanya sibuk dengan pencitraan dan kegiatan seremonial? Ini bukan lagi soal kegagalan kecil. Ini soal kegagalan strategis.
Di era data terbuka ini, publik tidak lagi buta. Angka IPM bisa menjadi alat paling tajam untuk menilai pemimpin. Jika kualitas manusia tidak bergerak, rakyat bisa menyimpulkan bahwa pemimpinnya tidak mampu mengangkat martabat daerah. Dan ingat, angka tidak bisa disulap, namun ia adalah cermin paling jujur.
Perbedaan hampir 10 poin antara Kota Gorontalo dan Gorut bukan sekadar statistik, itu adalah jurang martabat.
Gorontalo Utara butuh lebih dari sekadar pemimpin berpendidikan. Butuh pemimpin yang mengerti bagaimana memindahkan teori ke realitas.
Karena jika tidak, generasinya akan terus berada di barisan belakang, tidak diprioritaskan, tidak dilihat, dan akhirnya tidak punya posisi tawar.

Komentar