0435.id, EDITORIAL – Di tengah gegap gempita jargon ‘Gorontalo Maju dan Sejahtera’, ada satu data sederhana justru menampar kesadaran kita, yakni minat baca buku. Tahun 2025, Gorontalo berada di urutan 31 dari 38 provinsi dalam daftar provinsi paling gemar membaca buku, dengan capaian 62,43%.
Angka ini bukan sekadar statistik, namun potret buram dari wajah kebudayaan literasi daerah. Bandingkan dengan DI Yogyakarta yang bertengger di puncak dengan 79,99 persen. Jarak ini bukan hanya soal selisih angka, tetapi tentang ekosistem membaca yang hidup. Di sana, membaca telah menjadi kebiasaan sosial (perpustakaan berfungsi, komunitas literasi tumbuh, dan kampus menjadi denyut pengetahuan). Di Gorontalo, membaca kerap berhenti pada seremoni, ramai saat lomba dan peringatan, sunyi dalam keseharian.
Lebih menyedihkan lagi, ketika peta dibatasi hanya pada Pulau Sulawesi, Gorontalo justru tercatat sebagai provinsi dengan tingkat kegemaran membaca terendah. Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, hingga Sulawesi Tenggara semuanya berada di atas Gorontalo.
Fakta ini mematahkan dalih klasik, bahwa keterbatasan wilayah timur menjadi penyebab utama. Jika provinsi tetangga mampu melangkah lebih maju, maka persoalan Gorontalo jelas bukan takdir geografis, melainkan kegagalan membangun budaya.
Ironisnya, Gorontalo bukan daerah tanpa modal intelektual. Perguruan tinggi berdiri, anggaran pendidikan mengalir, dan program literasi tercantum rapi dalam dokumen perencanaan. Namun literasi terlalu sering diperlakukan sebagai program administratif, bukan gerakan kebudayaan.
Kita membangun gedung perpustakaan, tetapi lupa menghidupkan ruang bacanya. Kita menggelar festival literasi, tetapi abai pada kesinambungan setelah panggung dibongkar.
Dalih akses, ekonomi, dan gempuran gawai kerap dijadikan tameng. Padahal, teknologi tanpa pendampingan literasi justru mempercepat kemiskinan berpikir. Ketika buku tak hadir di ruang publik, perpustakaan sekolah sekadar pelengkap laporan, dan pemimpin daerah tak memberi teladan membaca, maka rendahnya minat baca adalah konsekuensi logis.
Data Perpustakaan Nasional RI dan BPS 2025 seharusnya dibaca sebagai alarm keras, bukan sekadar bahan rilis. Literasi bukan tugas guru Bahasa Indonesia atau pustakawan semata, melainkan tanggung jawab lintas sektor, yakni perencanaan kota, kebijakan anggaran, hingga keberanian elite daerah menjadikan pengetahuan sebagai fondasi pembangunan.
Daerah yang jarang membaca akan mudah puas dengan slogan, miskin gagasan, dan rapuh menghadapi perubahan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, Gorontalo bukan hanya tertinggal dalam statistik literasi, tetapi juga dalam kemampuan berpikir kritis dan daya saing generasi mudanya.
Pertanyaannya kini bukan lagi Gorontalo peringkat ke berapa? melainkan, apakah kita sungguh peduli untuk naik kelas? atau rela terus berada di posisi terbawah Sulawesi sambil merayakan kemajuan semu?
Berikut daftar Provinsi se- Indonesia yang gemar membaca sesuai urutan persentase sebagaimana dilansir dari Perpusnas dan BPS 2025:
1. DI Yogyakarta: 79,99 %
2. Kepulauan Bangka Belitung: 77,47 %
3. Jawa Timur: 77,15 %
4. Jawa Barat: 75,07 %
5. Kalimantan Selatan: 74,63 %
6. Sulawesi Selatan: 74,46 %
7. Jawa Tengah: 73,91 %
8. Kepulauan Riau: 73,69 %
9. Sumatera Barat: 73,30 %
10. Kalimantan Utara: 72,80 %
11. DKI Jakarta: 72,19 %
12. Bali: 71,97 %
13. Kalimantan Barat: 71,26 %
14. Banten: 70,66 %
15. Nusa Tenggara Timur: 70,34 %
16. Riau: 70,26 %
17. Aceh: 69,93 %
18. Sumatera Selatan: 69,62 %
19. Kalimantan Timur: 69,53 %
20. Bengkulu: 68,83 %
21. Sumatera Utara: 68,57 %
22. Sulawesi Utara: 68,44 %
23. Kalimantan Tengah: 68,34 %
24. Jambi: 68,05 %
25. Lampung: 67,67 %
26. Sulawesi Tengah: 67,48 %
27. Sulawesi Barat: 67,06 %
28. Sulawesi Tenggara;: 66,02 %
29. Nusa Tenggara Barat: 65,67 %
30. Maluku: 62,58 %
31. Gorontalo: 62,43 %
32. Maluku Utara: 60,52 %
33. Papua Barat: 59,29 %
34. Papua Barat Daya: 54,89 %
35. Papua Selatan: 54,82 %
36. Papua Tengah: 52,06 %
37. Papua: 50,86 %
38. Papua Pegunungan: 38, 83 %

Komentar