Daerah
Beranda » Berita » IPPOT Tapa Disulap Jadi Arena Dagang, Syawal: Lapangan atau Lapak?

IPPOT Tapa Disulap Jadi Arena Dagang, Syawal: Lapangan atau Lapak?

Syawal Hamjati (kemeja hitam/ berorasi)

0435.id – Tapa kembali dipaksa menelan ironi yang dibungkus dengan dalih “meramaikan kecamatan.” Lapangan IPPOT, yang sejatinya merupakan pusat olahraga dan infrastruktur publik, kini beralih fungsi menjadi panggung komersial melalui gelaran pasar malam atau “hoya-hoya.” Sebuah istilah yang terdengar ringan, namun menyimpan beban persoalan yang tidak bisa dianggap sepele.

Dalih yang disampaikan pengelola terdengar klasik: meningkatkan perputaran ekonomi dan menghidupkan UMKM sekitar. Namun pertanyaannya sederhana, UMKM yang mana? Jika yang dihadirkan justru pelaku usaha dari luar Kecamatan Tapa, maka narasi “pemberdayaan lokal” tak lebih dari retorika kosong. Alih-alih menguatkan ekonomi warga, yang terjadi justru potensi penggerusan ruang ekonomi masyarakat setempat.

Aktivis Bone Bolango, Syawal Hamjati, dengan tegas membantah klaim tersebut. Ia menyayangkan pernyataan pengelola yang dinilai tidak berdasar dan cenderung menutup mata terhadap dampak yang lebih luas, Kamis (2/4/2026).

“Kalau berdalih peningkatan pendapatan UMKM, UMKM yang mana dulu? Jika hanya diisi oleh pelaku usaha dari luar kecamatan, apakah itu benar-benar memberi dampak bagi masyarakat Tapa?” tegas Syawal.

Lebih lanjut, ia menyoroti efek domino yang ditimbulkan. Lapangan yang seharusnya menjadi ruang publik untuk olahraga dan aktivitas masyarakat justru terancam rusak akibat aktivitas komersial yang tidak terkontrol. Tidak ada jaminan konkret dari pengelola terkait pemulihan kondisi lapangan pasca kegiatan. Janji-janji tanggung jawab hanya menggema di awal, lalu hilang tanpa jejak setelah keuntungan diraup.

Erwinsyah Ismail Tegaskan Rumah Sakit Bukan Mesin Pendapatan Daerah, Melainkan Pelayanan Kemanusiaan

“Pengelola hanya berani bersuara seolah mampu bertanggung jawab. Faktanya, tidak ada kejelasan tanggung jawab setelah kegiatan berlangsung. Ini bukan sekadar soal event, ini soal keberlanjutan fasilitas publik,” lanjutnya.

Fenomena ini memperlihatkan wajah lama dari kebijakan instan: keuntungan sesaat dikedepankan, sementara dampak jangka panjang diabaikan. Jika ruang publik terus dikorbankan atas nama “keramaian,” maka yang tersisa hanyalah kerusakan yang diwariskan kepada masyarakat.

Ironisnya, menurut Syawal, suara masyarakat seakan tenggelam. Bukan karena mereka setuju, melainkan karena ada rasa takut, takut terhadap tekanan, takut terhadap intervensi. Namun melalui kritik ini, Syawal menegaskan bahwa diam bukan berarti menerima.

“Kami tidak menolak hal-hal yang masuk ke daerah. Tapi jangan sampai itu merusak. Jangan sampai fasilitas publik dikorbankan demi kepentingan sesaat,” ujarnya.

Dalam keterangan terakhirnya, Syawal menegaskan, sudah saatnya masyarakat Tapa bersuara lebih lantang. Lapangan IPPOT bukan milik segelintir pihak, melainkan milik bersama.

Muslub IBCA MMA Kota Gorontalo Tetapkan Moh Reddah Mardjun sebagai Ketua

“Jika hari ini dibiarkan berubah menjadi lapak, maka esok bukan tidak mungkin seluruh ruang publik hanya akan menjadi komoditas. Dan ketika itu terjadi, kita bukan lagi kehilangan lapangan, kita kehilangan hak,” pungkasnya.

Komentar

  1. Rungggkaaddd berkata:

    Datang kmri di lapangan jangan cuma abis di bagini cuma dapa doktrin dari orang lain bru asal buka suara dengar crta langsung dari torang pengurus ippot

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement