Daerah Opini
Beranda » Berita » DI, Prajurit Loyal Pertama yang Jadi Tumbal Era GI

DI, Prajurit Loyal Pertama yang Jadi Tumbal Era GI

Oleh : Anki Priutama Putra

Ada banyak kisah heroik para raja, jenderal, atau panglima perang yang rela melakukan apapun demi membela kehormatan para prajuritnya yang loyal dan setia kepadanya.

Namun ada pula beberapa kisah dimana para raja, jenderal atau panglima perang tidak menunjukkan sikap patriotiknya kepada prajuritnya yang loyal dan setia.

Lewat pengantar diatas, penulis ingin menyiratkan sebuah pesan bahwa kesetiaan dan loyalitas seorang bawahan kepada Pemimpinnya acap kali kabur oleh intrik, siasat, dan taktik licik.

Erwinsyah Ismail Tegaskan Rumah Sakit Bukan Mesin Pendapatan Daerah, Melainkan Pelayanan Kemanusiaan

Segala keributan tentang Gorontalo Half Marathon (GHM) 2025 seolah menemui titik klimaksnya usai sosok Ketua Panitia yang juga Kadispora Provinsi Gorontalo, Danial Ibrahim (DI) dinonjobkan atau dinonaktifkan dari jabatannya.

Sebelum penulis lebih jauh mengulik hal ini, disklaimer dulu bahwa penulis tidak memiliki hubungan apapun dan bahkan tidak mengenal sosok DI sebelumnya, penulis hanya ingin sedikit menyuarakan bentuk ketidakadilan ke ruang publik dan memberikan kritik atas keputusan GI ini.

Pasca munculnya berbagai pemberitaan di media, akhirnya DI dinonjobkan oleh GI. Ada beberapa alasan yang disebutkan atas langkah GI memarkir DI.

Pertama, karena telah membuat gaduh GHM dan menimbulkan polemik bagi masyarakat, yah walaupun penulis belum benar-benar memahami masyarakat mana yang gaduh soal ini, yang penulis pahami ini gaduh karena berawal dari komentar salah satu petinggi partai pengusung Gusnar-Idah yang mana menurutnya ini tak elok jika ditarik ke Semiotika Politik atau pesan politik atau apalah.

Kedua, karena ini merupakan rekomendasi dari Komisi IV DPRD Provinsi Gorontalo yang merekomendasikan agar DI segera dinonjobkan.

Muslub IBCA MMA Kota Gorontalo Tetapkan Moh Reddah Mardjun sebagai Ketua

Dari dua alasan itulah penulis merasa janggal dan ada sebuah ketidakadilan yang menimpa DI.

Untuk alasan pertama, kegaduhan yang bermula dari persoalan desain medali yang hanya mencatut nama Gubernur GI kemudian ramai dibahas dan kemudian dikritik abis-abisan oleh salah satu petinggi parpol karena ditarik ke ranah semiotika politik, padahal dari klarifikasi yang telah disampaikan oleh si DI desain medali sama sekali tak ada unsur kesitu. Si DI hanya melihat berbagai contoh medali event lari daerah yang memang hanya mencatut nama si kepala daerah dan itu memang tidak salah dan tak ada aturan atau norma yang dilanggar terlebih DI juga telah menyampaikan permohonan maafnya secara terbuka ke publik.

Sangat tak elok bagi tontonan publik bahwa tata kelola birokrasi ini selalu dikaitkan dengan koalisi atau parpol. Secara tidak langsung ini menegaskan kepentingan parpol koalisi harus selalu lebih utama ketimbang kepentingan publik dan ini tentu saja tidak baik.

Selain itu keputusan yang GI ambil menurut penulis sangat tergesa-gesa, mengingat DI adalah bawahan langsung dari GI artinya ia tidak mungkin bertindak tanpa koordinasi dengan atasannya terlebih dahulu kalaupun ia luput berkoordinasi, DI pasti punya niat untuk menyenangkan atasannya atau dalam bahasa lain ia hanya berniat bakoprol GI.

Untuk alasan kedua, karena rekomendasi Komisi IV DPRD Provinsi Gorontalo, ini juga agak aneh. Pasalnya giliran rekomendasi yang bersifat urgent bagi masyarakat kerap ditunda, giliran untuk mematikan karir seseorang, begitu cepatnya diindahkan.

BPD HIPMI Gorontalo dan Afifuddin Kalla Tebar Kepedulian lewat Program “Sapi Qurban”

Hal ini tentu jadi contoh yang tidak baik dalam tata kelola birokrasi Provinsi Gorontalo dan juga sekaligus jadi peringatan bagi para pejabat eselon di lingkup Pemprov bahwa tidak selamanya perintah atasan itu baik kadang justru bekeng cilaka, karena kadang perintah itu justru tidak mendapat pembelaan dari atasan.

Melalui tulisan ini jika ti pak Gub GI baca ini tulisan, penulis cuman berpesan jangan gampang mematikan karir seseorang yang belum tentu melakukan kesalahan yang dituduhkan, DI sama halnya dengan bawahan lain melakukan segala sesuatu untuk menyenangkan atasannya.

Walaupun penulis paham keputusan ini murni hak perogatif GI sebagai kepala daerah tapi seyogyanya ada hal-hal lain yang dapat dipertimbangkan GI untuk DI sebagai bawahan yang selama ini hanya mencoba menunjukkan sikap loyal kepada GI sebagai atasannya.

GHM adalah event olahraga yang seharusnya konsennya ditarik ke sport tourism saja, jangan ditarik-tarik ke arena politik karena sejatinya itulah yang bikin gaduh!

Semoga melalui tulisan ini, DI yang namanya tercoreng oleh masalah ini bisa pulih kembali, dan GI bisa melanjutkan era kepemimpinannya dengan baik, bersikap jauh lebih adil baik bagi bawahannya pada lingkup birokrat pemprov ataupun untuk masyarakat luas.

Tapi apapun itu keputusan sudah dibuat dan DI, Prajurit Loyal Pertama yang jadi Tumbal di Era GI!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement